Hampir Gila!

Hampir Gila!


Saya mempunyai seorang teman yang sudah seminggu ini selalu marah-marah tanpa sebab. Teman saya ini kebetulan adalah seorang pengajar atau lebih tepatnya pembimbing anak-anak kecil. Dan saat ini adalah hari kedua di mana dia memilih untuk mengambil cuti. Apa yang sebenarnya terjadi? Yang saya tahu, dia adalah seorang penyabar dan jarang marah.

“Kesabaran itu memang ada batasnya dan saya harus bertindak,” katanya dalam bincang sore.

“Dengan marah-marah? Apakah itu solusi?”

“Setidaknya membuat beban hatiku berkurang.

“Tapi kau membuat beban baru di hati keluargamu.”

“Apa yang harus saya lakukan? Saya hampir gila melihat suami saya berganti wanita tiap hari!”

“Sejak kapan suamimu begitu?”

“Memang sudah wataknya dari dulu, bahkan sebelum kami menikah.”

“Buat apa kamu menikahi denganya jika kini menyesalinya?”

Teman saya hanya terdiam dan mulai merenungi resiko yang sudah sewajarnya dia hadapi saat dulu memutuskan untuk menikah dengan suaminya. Ketika sudah dipersatukan dalam ikatan pernikahan, maka baik atau buruk sifat dan sikap pasangan kita, kita harus bisa menerimanya dengan penuh kesabaran.

Oleh sebab itu, kenalilah lebih dalam pasangan kita sebelum kita memutuskan untuk hidup dengannya. Jika ada hal-hal buruk yang tidak menunjukkan perubahan ke arah lebih baik, tidak ada salahnya jika mulai ditinggalkan, sebab Tuhan tidak akan pernah salah memberi pendamping.

Sebuah Pilihan dan Kehendak Tuhan

Sebuah Pilihan dan Kehendak Tuhan

"Kamu tidak akan bisa apa-apa!" kata-kata itu yang selalu kudengar dari orang-orang terdekatku. Aku selalu memikirkan hal itu hingga membuatku bingung, kesal pada diri sendiri dan marah. Aku merasa hidupku tidak berguna lagi dan rasanya aku tak berarti lagi sebagai manusia karena apapun yang aku lakukan selalu gagal dan mendapat cemooh dari orang-orang itu. Aku malu dan tersiksa, sekian lama rasa penyesalan akan diriku selalu menyelimutiku.

Dan pada suatu ketika, saat aku ke toko buku untuk membeli buku tentang cerita inspiratif, aku tak sengaja mendengar suara dari radio di toko itu. Yang menceritakan kisah sukses seorang pengusaha dari negara Taiwan, yang aku ingat saat ada seorang mahasiswa bertanya kepada pengusaha itu, "Bagaimana caranya supaya saya dapat sukses seperti anda, Pak?" 

Kemudian pengusaha itu menjawab, "Coba kau buka telapak tanganmu dan kau kepal erat-erat. Apakah semua garis tanganmu ikut tergenggam?" 

"Tidak, pak," Jawab mahasiswa itu.

"Nah begitulah juga dengan kekayaan, kesuksesan, kenyamanan semua berada dalam genggamanmu. Tapi yang tak dapat kau genggam/raih itu adalah kehendak, kepunyaan dan bagian Tuhan dalam hidupmu. Jadi andalkanlah Tuhan dalam hidupmu."

Saat mendengar hal itu aku merenung, aku lupa bahwa selama ini diriku sering mengeluh, lupa bersyukur dan lupa bahwa Tuhan mengasihiku dan selalu memberikan hal yang terbaik buatku. Dari situ aku mulai mendekatkan diri lebih sungguh kepada Tuhan dan pelan-pelan aku berusaha mengetahui dan mencoba mengasah talentaku di suatu bidang, hingga aku pun bisa berhasil dan menunjukan kepada semua orang bahwa setiap orang punya hak yang sama untuk berhasil, tapi yang mempunyai ketentuan dalam hidup kita adalah Tuhan.

Artikel Motivasi oleh Sina

Pernah Jatuh Cinta?

Pernah Jatuh Cinta

Kalian pernah jatuh cinta? Cinta itu akan membuatmu tak bisa tidur dengan nyenyak. Ketika kau mencoba untuk memejamkan mata, maka pikiranmu hanya akan berputar-putar tentang si dia. Saat kau memalingkan mata pada sudut kamar, maka kau akan temukan senyumnya di sana. Ah, cinta itu selalu membayangi kemanapun kita pergi.

Cinta itu selalu menunggu kabar. Semenit saja tak bersua, rasanya dunia kiamat. Cinta membuat kau selalu ingin tahu segala hal yang dia lakukan. Cinta itu kepo! Cinta membuat kita selalu bergantung dengan alat komunikasi ketika posisi kita berada jauh dari si dia. Cinta itu tak ingin kehilangan jejak, tak heran jika cinta benci dengan kata-kata perpisahan.

Cinta itu membuat kau lupa terhadap dirimu sendiri. Cinta hanya akan memperhatikan si dia dan tentang dia. Cinta membuat kita lupa makan, lupa belajar, lupa dengan pekerjaan dan juga lupa dengan waktu. Cinta juga terkadang akan membuatmu tersenyum sendiri dan juga akan membuatmu tampak lebih cantik/tampan dari sebelumnya. Cinta itu seperti sihir! 

Kalian pernah jatuh cinta?

Apa Kau Sungguh-sungguh Mencintaiku?

Apa Kau Sungguh-sungguh Mencintaiku

Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku? Cinta itu bukan hanya tentang kiriman bunga setiap pagi ataupun jutaan rayuan yang kau ungkapkan kepadaku. Cinta juga bukan hanya tentang perhatian yang selalu kau tunjukkan kepadaku. Karena cinta yang kucari bukanlah cinta yang seperti itu.

Aku ingin mencari cinta yang juga mencinta Tuhanku. Aku ingin mencari cinta yang dapat menumbuhkembangkan imanku. Aku ingin cinta itu dapat mengajariku banyak hal tentang bentuk kasih kepada sesama. Aku juga ingin cinta itu mampu menerima keluargaku apa adanya. Dan juga... cinta yang mampu mengingatkanku untuk takut akan dosa.

Cinta sejati juga tidak akan pernah membiarkan aku berbuat salah. Cinta sejati akan menegur untuk kebaikanku. Cinta sejati itu tidaklah sulit untuk ditemukan. Benarkah? Ya! Tanamkanlah cinta yang bener itu terlebih dahulu dalam hidup kita masing-masing, maka kebaikan akan mengikuti kita kemanapun kita pergi. Termasuk mendapatkan jodoh yang terbaik.

Makanan Basi

Makanan Basi

Kemarin pagi ibu memasak sayur dengan kuah santan, karena seharian kami berada di luar rumah dan baru pulang menjelang malam, maka sayur berkuah santan itu menjadi basi. Ibu mengatakan bahwa jika memasak sayur akan lebih baik langsung habis dimakan atau dipanaskan kembali agar tidak basi. Jika makanan itu menjadi basi, maka semua usaha ibu sia-sia.

Begitu juga dengan kebaikan, jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik atau bahkan hanya disimpan saja dan akan diberikan keada orang yang tepat, maka kebaikan kita akan menjadi basi. Orang lain tidak akan pernah mengingat berapa banyak uang kita, namun mereka akan mengingat kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kepada mereka.

Siapa yang berbuat baik maka kebaikan akan selalu menyertai kemanapun kita pergi. Jangan hanya menuntut orang lain untuk berbuat baik namun berlakulah yang baik terlebih dahulu kepada mereka. Kebaikan yang tertahan hanya akan berakhir dengan penyelasan karena salah satu kunci surga adalah dengan melakukan kebaikan.

Monopoli Kehidupan

Monopoli Kehidupan

Kau suka bermain monopoli? Ya, aku suka sekali memainkannya, di mana angka-angka pada dadu-dadu yang terlempar akan menunjukkan tujuan. Nasib saat kita bermain monopoli sangat ditentukan oleh lemparan dadu. Ada kalanya kita akan mendapatkan untung atau bisa juga akan buntung. Tak heran jika saat mengalami kekalahan, kita akan emosi dan ingin mengulanginya lagi. Betul bukan?

Monopoli mengajari kita banyak hal, yaitu kesabaran, harapan dan juga keikhlasan. Untuk bisa melempar dadu, maka kita harus menunggu lawan main kita untuk melemparkannya terlebh dahulu secara bergantian. Saat kita bermain, tentu juga ingin mendapatkan "kesempatan" di mana pada kartu kesempatan sering terdapat hal-hal baik, itulah harapan. Dan kita juga harus siap dengan kekalahan dan menerima apapun hasil akhirnya, itulah keikhlasan.

Apakah selama ini kita sudah cukup bersabar dalam menjalani kehidupan ini? Apakah kita lebih cenderung berputus asa saat mengalami banyak kegagalan? Atau sudah ikhlaskah kita akan segala hal yang akan terjadi dalam kehidupan kita? Segala sesuatu sudah Tuhan atur sedemikian rupa dan kita hanya perlu "memainkannya" dengan baik tanpa melanggar aturan-Nya.

Nasib kita ditentukan dengan apa yang kita putuskan sekarang. Jika kita salah dalam mengambil keputusan, maka jangan pernah mengharapkan masa depan yang indah. Lalu seperti apa keputusan yang baik? Lakukanlah segala hal dengan sangat baik pada hari ini!

Selalu Kecewa

Selalu Kecewa

Aku merasa kecewa, terlebih lagi ketika orang-orang di sekitarku tidak pernah mau mengerti apa yang aku inginkan. Mereka lebih mementingkan kepentingan diri sendiri, tak jarang jika mereka kerap mengambil untung dariku. Seperti seorang penjahat yang hanya mengambil barang milik orang lain lalu lari. Semua itu membuatku kecewa berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Apakah Tuhan mengerti tentang semua keadaanku? Apakah Tuhan mengerti tentang kecewaku? Apakah Tuhan juga mengerti akan semua sakit yang aku rasa selama ini? Kemana Tuhan ketika semua masalah itu menghimpit kehidupanku? Aku hanya bisa mengeluh tanpa menyadri bahwa kemarin dan hari ini Dia selalu ada bersamaku. Aku terlalu sibuk dengan rasa kecekau tanpa menyadari kehadiran-Nya dalam hidupku.

Orang bilang bahwa kecewa akan sirna ketika aku mengucap syukur. Apakah itu benar? apakah kalian juga bisa dengan mudah melenyapkan rasa kecewa dengan hanya mengucap syukur? Yang aku tahu, rasa kecewa hanya bisa diusir ketika aku mampu untuk mengampuni dan menerima semua keadaan hidupku. Saat aku bisa mengampuni dan menerima keadaanku, disitulah ucapan syukur akan terbentuk dengan sendirinya.

Aku akan belajar untuk bisa mengampuni dan menerima kehidupan yang sudah Tuhan kehendaki untuk terjadi dalam hidupku. Aku memang kecewa namun aku akan berusaha untuk tidak memeliharanya. apakah kalian telah berhasil untuk mengusir rasa kecewa dalam hati? Jika telag berhasil, maka bersyukurlah. Akan tetapi jika belum, inilah saatnya untuk mengusirnya!

Tak Terbeli

Tak Terbeli

Siang itu aku memutuskan untuk masuk ke sebuah toko boneka. Aku ingin membelikan satu boneka beruang untuk anakku. Seminggu lagi, Lily, anakku akan berulang tahun dan aku tahu bahwa dia ingin sekali memiliki boneka beruang. Aku sudah membayangkan betapa bahagianya Lily saat mendapati boneka ini di kamarnya.

Hatiku kecewa ketika tak kudapati boneka beruang di toko tersebut. Ketika hendak meninggalkan tempat itu, aku melihat di salah satu sudut ruangan, ada boneka beruang mungil berwarna putih. Akupun mendekat dan menanyakan harganya.

"Berapa harga boneka beruang kecil ini?"

"Oh, boneka itu tidak untuk dijual."

"Berapapun harganya, akan aku bayar."

"Sebanyak apapun uang yang akan Anda berikan, takkan mampu untuk membeli boneka itu."

"Apakah ada yang istimewa? Mungkin terbuat dari benang emas?"

"Ada cinta di dalamnya. Boneka itu untuk anakku. Dan aku akan membawanya pulang nanti malam."

"Bukankah kau bisa membeli yang lainnya?"

"Aku bekerja di toko ini dan gajiku selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari. Aku harus bekerja lembur untuk bisa membeli boneka itu."

Aku menyadari bahwa cinta dan kasih sayang itu tak akan pernah terbeli. Seperti itu juga yang akan aku lakukan kepada anakku. Aku akan memberikan banyak cinta kepadanya karena dia pasti sangat membutuhkannya. Cinta lebih berharga dari puluhan boneka yang akan dia terima di hari ulang tahunnya nanti.

Biarkan Saja

Biarkan Saja

Seorang lelaki berjalan menuju ke rumahnya. Kakinya memainkan kerikil dengan cara menendang-nendangnya. Secara tidak sengaja, lelaki itu menemukan sebuah liontin yang telah retak. Ia pun menuju ke sebuah toko antik yang ada di ujung jalan. Pemilik toko membeli liontin itu dengan harga 100 dollar dan ternyata liontin yang ia temukan adalah liontin kuno.

Lelaki itu melanjutkan perjalanan dan teringat akan lemari anaknya yang telah rusak. Lelaki itu membeli sebuah lemari dan memanggulnya. Belum sampai di rumahnya, ada seorang wanita yang menawar lemari miliknya dengan harga 300 dollar. Diapun menerima tawaran dan melepaskan lemari yang dibelinya. Ia memastikan kembali uang yang berada di sakunya. Ketika lelaki itu mengeluarkan uang, tiba-tiba ada seekor anjing yang menabraknya. Ia terkejut dan uangnya jatuh ke dalam sungai. Ia tak dapat mengambilnya karena arus sungai yang deras.

Anaknya yang kebetulan melintaspun menghampirinya dan bertanya, "Apa yang ayah lakukan di sini dan apa yang baru saja jatuh ke sungai?"

"Oh, hanya sebuah liontin retak," jawabnya dengan santai.

Terkadang kita begitu berat untuk menerima sebuah kehilangan. Rasa tidak rela itu yang pada akhirnya membuat hati kita begitu kecewa. Jika Tuhan menghendaki untuk menjadi milik kita, maka tak akan ada seorangpun yang dapat mengambilnya, begitu pula dengan sebaliknya. Maka nikmatilah hidup itu dan jangan jadikan sebuah kehilangan sebagai beban.